Standar untuk sebuah standar

Apa yang sering dilakukan dan disarankan dalam rangka menjadi manusia yang lebih baik? Meskipun sebenarnya jawaban dari pertanyaan ini sangatlah obvious tapi sebenarnya manusia di berbagai belahan dunia memiliki standar yang berbeda. Dulu jaman orang professor-professor saya masih kuliah, ada gojekan bahwa KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) UGM sudah bisa digunakan untuk melamar anak gadis Pak Lurah. Tentunya sekarang hal ini tidak sahih lagi, karena jangankan untuk melamar anak gadis Pak Lurah untuk nyewa DVD bajakan di rentalan saja kadang tidak diterima, mintanya KTP atau SIM. Itu dalam kurun waktu yang berbeda, tapi dalam kurun waktu yang sama pun, standarnya kadang bisa ditemukan berbeda, seperti di Yunani, antara Athena dan Sparta dalam era greekopolis. Di Sparta untuk menjadi manusia yang lebih baik adalah dengan membentuk fisik sebagai prajurit unggulan, menempuh latihan fisik sejak usia yang sangat muda, sedangkan di Athena menjadi yang lebih baik adalah dengan belajar seni dan filsafat, perbedaan ini membuat kedua polis tersebut saling mengejek satu sama lain. Orang Sparta mengatai orang Yunani sebagai “banci-banci penulis puisi”, dan orang Athena mengatai orang Sparta sebagai “binatang-binatang gila perang”. Siapa yang benar? Bagi orang Athena mereka menganggap dirinya yang benar, dan orang-orang Sparta yang salah, begitupun sebaliknya.

Menarik sebenarnya, karena sekarang hal ini jarang sekali menjadi perdebatan. Masyarakat modern umumnya telah menyepakati berbagai macam hal yang harus dilakukan untuk menjadi manusia yang lebih baik, saking sepakatnya, orang-orang yang mengambil jalan “alternatif” sering disebut sebagai anomali dalam masyarakat, sehingga kerap muncul pertanyaan: “kenapa tidak melakukan ini seperti teman-temanmu?” atau “kamu mau jadi apa kalau kerjaanmu cuma itu saja?”. Tapi percaya atau tidak, faktanya tetap ditemukan para anomali dalam masyarakat ini yang justru menjadi jauh lebih baik daripada orang-orang yang mengambil jalur umum. Contohnya? Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckenberg, semuanya DO (Drop Out) dari kampusnya. Ada yang pernah menyarankan untuk DO supaya sukses? Saya kira sinting, karena jangankan DO, jadi mahasiswa tua saja sudah aib bagi keluarga (dan jurusan).

Jika mengambil “jalur alternatif” sebagai seorang anomali ternyata tidak menjamin kegagalan untuk menjadi lebih baik, lalu apakah mengambil “jalur utama” menciptakan kepastian untuk menjadi lebih baik?

Meskipun jarang sekali atau bahkan tidak pernah ada perdebatan tentang asumsi dari pernyataan ini, tapi saya kira tetap saja ini bukanlah sebuah kebenaran absolut. Kecuali kalau pernyataannya diubah menjadi “apakah dengan mengambil jalur utama akan menjamin kita untuk menjadi baik?” maka saya sahih, ya, karena meskipun baik tidak sama dengan lebih baik tapi baik sudah cukup untuk memberi kita tempat yang benar dalam masyarakat.

Saya sebenarnya merupakan salah satu penganut ajaran yang sama dengan masyarakat kebanyakan, ajaran yang juga bahkan diwajibkan dan telah diusahakan oleh pemerintah di Negara saya sendiri, dengan dogma sekolah, belajar, lulus, kerja, santun, jangan melanggar hukum, taati aturan, dan sebagainya. Walaupun layaknya penganut ajaran apapun di seluruh dunia, sepercaya-percayanya, dan setaat-taatnya, mau tidak mau ngaku, pasti pernah luput juga.

Saya berkuliah di salah satu universitas bergengsi di Indonesia, sepakat atau tidak, paling tidak itu yang disepakati oleh lembaga rating universitas dan para calon-calon mertua entah dimanapun mereka berada. Walaupun banyak dari kolega kuliah saya mengatakan “biasa-biasa saja” tapi saya bisa melihat kebanggan dalam diri mereka, meskipun kebanggaan itu kadang sedikit luntur seperti warna jas almamater kami yang entah apa warnanya, khaki tidak, hijau tidak, coklat tidak, hingga saking malasnya almamater kampus saya sepakat menyebutnya sebagai warna karung goni lengkap dengan segala dramatisasi sejarahnya.

Jika usaha tidak akan membohongi hasil (atau hasil tidak akan membohongi usaha? Saya lupa yang benar yang mana) maka “reputasi tidak akan membohongi isi”. Bagi saya waktu itu (dan juga menurut standar masyarakat beradab pada umumnya) kami mendapat fasilitas yang terbaik di kelasnya, bukan hanya fasilitas fisiknya, tapi juga fasilitas intelektualnya. Dosen-dosen kami adalah yang terbaik di bidangnya, khususnya di departemen saya, nama professor-professor saya bukan hanya menghiasi papan informasi jurusan, tapi juga panel-panel internasional, artikel-artikel jurnal, dan berbagai buku akademik rujukan. Sehingga saya dan beberapa kawan sering sesumbar jika argument kami tidak sejalan dengan akademisi dari almamater lain adalah karena mereka tidak mendapat fasilitas intelektual sebaik kami. Hingga saya pun mengambil kesimpulan pendek bahwa kami adalah standar, atau bahkan crème de la crème, yang terbaik di kelasnya. Tulisan-tulisan kami dalam jurnal akademik tidak kacangan, argument kami mantab, dan membeli paper di shoping untuk bahan skripsi adalah lawakan tidak senonoh bagi kami.

Kami yang saya maksud adalah kami, almamater yang entah sudah berapa ratus ribu jumlahnya, terhitung sejak kampus itu berdiri dari tahun 1949. Dan saya berharap besar bahwa kami dapat menjadi standar di Indonesia, karena kamilah yang mengambil jalan yang terbaik dari jalan utama. Dan memang, meskipun tidak semuanya (dalam standar apapun) alumnus-alumnus kampus biru tidak pernah menjadi pertanyaan dalam dunia professional, meskipun tidak semuanya.

Itu baru standar dalam dunia professional, masalah muncul ketika saya mulai bertanya tentang standar moral. Layaknya anggota TNI, terserah apapun yang penting NKRI Harga Mati, saya dan beberapa kawan saya memiliki standar moral (yang kami yakini sebagai standar untuk standar moral bagi almamater kami).

Tapi ternyata, selain iman, moral pun diuji. Pemilihan Presiden tahun 2014 dan Polemik al-Maidah (saya berusaha mengayomi kaum yang mengatakan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan pilkada Jakarta) telah meruntuhkan kepercayaan saya terhadap standar moral saya. Karena ternyata dari kalangan sesama alumni saya sendiri muncul banyak perbedaan pendapat, dan perbedaan cara menyampaikan pendapat. Saya masih akan maklum kalau pendapat yang berbeda itu bermutu (sesuai standar saya tentunya), dan cara menyampaikan pendapatnya juga bermutu (lagi-lagi sesuai standar saya juga).

Ternyata tidak.

Dan anehnya lagi karena malah beberapa yang pendapat dan dan cara menyampaikan pendapatnya sesuai dengan standar saya justru bukan berasal dari almamater saya. Dan lebih anehnya lagi ternyata beberapa yang pendapat dan cara menyampaikan pendapatnya tidak sesuai dengan standar saya, justru berada di atas standar saya, seperti orang-orang bergelar master, mahasiswa pascasarjana, atau yang sukses meraih beasiswa bergengsi ke luar negeri, dimana asumsi saya sebelumnya adalah saya yakin bahwa mereka memiliki standar yang lebih baik dari saya.

Ternyata memang sangat berbahaya untuk mengasumsikan bahwa dunia ini hidup di bawah standar moral yang sama, tidak ada istilah kuno atau tertinggal dalam point-point moralitas manusia, pengalaman saya di almamater saya disambung dengan dua peristiwa yang telah saya sebutkan sebelumnya telah mengajarkan saya suatu pelajaran berharga bawa social control dalam sebuah masyarakat hanya mampu menciptakan sebuah system (masuk-kuliah-lulus) tapi tidak menanamkan kesamaan morality value. Tapi toh bagi saya, mereka anomali, bagi mereka, saya anomali. Ibarat kembali ke era greekopolis, para banci-banci penulis puisi dan binatang-binatang gila perang saling mengumpat satu sama lain, karena masing-masing mengganggap dirinya yang paling benar.

Menurut standar mereka tentunya…  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s