Mumpung Masih Muda Kita Musti Nganu

“Bro, ngko bengi aku nang jogja, nginep nang Grand Zuri”
“Ayo dab dolan”
“Yo manut, bar jam 8, aku tak nulis sik”
“Yo ngko tak petuk e jam 8”

Percakapan siang tadi yang esensinya adalah tentang kedatangan seorang kawan yang sekarang jadi wartawan untuk salah satu media nasional kenamaan di ibukota. Kebetulan yang bersangkutan sedang ada tugas liputan di jogja dan kebetulan punya teman yang kebetulan punya banyak waktu luang.
Beberapa orang membuka hari dengan angop, rokok, atau secangkir kopi. Tapi hari ini saya membuka hari dengan perjalanan motor dari mangkubumi-tirtodipuran jam delapan malam. Dengan kemacetan jogja yang tidak seberapa dan obrolan bengak-bengok ala orang boncengan motor.

“Jane nang jogja ana acara opo?”
“Aku liputan, mau seko semarang, njuk sesuk nang wates”
“Wah podo sesuk aku ya urusan kantor nang wates”
“Lah kowe kerja ndi saiki mek?”
“Nang kae”

Pembicaraan berlanjut antara kami berdua, tukar informasi tentang tempat kerja dan sebagainya, pembicaraan yang lazim jadi topik obrolan teman lama.

“Ya nek nggo aku iki enak e wartawan, iso dolan nandi-nandi tekan plosok-plosok, disamping kui dibandingne media lain, gonku kesejahteraan e paling apik.”
“Nek gonku ngene”

Membandingkan satu dan lain hal memang sering jadi topik menarik, terlebih antara ibukota dengan daerah istimewa, yang satu bagai ibu tiri, satu lagi bagai MILF.

“Kae lho jaman awak dewe isih kuliah, pas semprop njuk kae karo kae, kae, lan kae”

Nostalgia merupakan barang wajar, kebetulan kali ini mantan personil kosan alamanda dipertemukan kembali, bukan di burjo atau angkringan, tapi di salah satu cafe kenamaan.

Saya teringat kembali dengan kalimat yang terlintas di benak saya saat ketiga penguji di ruang ujian menyalami tangan saya sambil berujar “selamat”. Perasaan bercampuraduk antara lega, menyesal, bingung, bangga jadi satu. Tapi hanya ada satu kalimat di kepala saya, now we are equal.
Kalimat ini bukan saya tujukan kepada ketiga bapak-bapak penguji saya, tapi pada satu bagian diri saya yang mulai gila karena merasa tertinggal dan terbelakang. Walaupun pada kenyataannya ternyata tidak equal-equal banget.
Pembicaraan kami yang selanjutnya pun tidak jauh dari nostalgia di masa lalu. Kami mengalami proses yang sama, kami mengerjakan soal yang sama, kami hadir di hari dan jam yang sama, kami menggunakan pakaian dan atribut yang sama, buku yang kami baca sama, dan kami berada di ruangan yang sama, kewajiban kami sama.
Tapi garis hidup orang seringkali berbeda, baik yang digariskan maupun yang digambar sendiri. Hal ini terkait perbedaan keputusan yang kami ambil, keputusan yang kami ambil di masa muda kami.
Pilihan menjadi pertimbangan karena dia menawarkan beberapa opsi keputusan. Jika manusia selalu mengambil opsi rasional, maka kampus timur akan dipindah ke barat dan para MA akan berganti gelar menjadi MSc.
Keputusan yang saya ambil membuat saya merangkak sementara teman-teman saya mulai berlari, tapi apakah hidup saya kemudian berhenti, tentu tidak. Saya memang harus membayar dua tahun itu dengan sangat mahal, tapi bukan berarti sangat mahal merupakan harga yang tidak bisa dibayar.
Kami makan dan minum di meja yang sama, menghirup asap rokok yang sama, berbicara bahasa yang sama, peluang kami sama. Sekarang mulai kelihatan equal-nya dimana, kami masih muda.

“Pancen nek isih enom kaya dewe ki energine isih akeh, wawasan e butuh berkembang. Awak dewe isih duwe peluang akeh nggo kedepan e”
“Pancen nek isih enom ki awak dewe kudu nganu!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s