Masih Banyak Hal Baik Tentang Jogja

Jogja

Belakangan ini saya sering dengar kabar kurang baik tentang Jogja, terutama tentang macet, hotel, dan yang lain-lainnya yang serba negatif, Tapi mendekati detik-detik dimana saya akan memutuskan untuk melanjutkan sisa hidup saya di Jogja atau harus menepati janji saya kepada beberapa kawan untuk menyusul ke Ibukota membuat situasi agak sedikit ihik. Tiba-tiba jogja menjadi berbeda, yang biasanya biasa-biasa saja kini setiap liku kota tempat kelahiran saya ini menjadi serba romantis.

Biasanya disitu adalah jalan dimana saya setiap hari menempuh rute pulang-pergi kampus, disana ada tempat saya biasa makan siang, ke selatannya ada tempat dimana saya biasa nongkrong sampai dinihari, seperti tempat di sebelah sana yang dulu saya biasa download karena internetnya kencang. Ke sebelah lagi ada warnet dimana saya biasa menghabiskan banyak waktu dan uang jajan semasa sebelum kuliah. Didekatnya ada tempat yang dulu terkenal karena eskrimnya. Sebelum restoran yang menjual makanan Jepang menjamur di Jogja, dulu biasanya saya makan disana. Oiya, dekat sana juga ada angkringan tempat biasa nongkrong sama teman-teman SMA, dan disebelahnya ada fotokopian yang jadi langganan. Sama agak jauh dari situ ada tempat ngopi yang buka 24jam yang sering jadi tempat ngungsi kalau kemalaman.

Tapi sekarang semuanya jadi tidak biasa, di jalan itu dulu saya pertama antar jemput kamu karena kamu harus ujian tapi posisi habis kecelakaan, disana tempat kita biasa makan siang karena kampus kita berdekatan, ke selatannya ada tempat dimana kita dulu pertama nongkrong sampai lupa waktu, Seperti tempat di sebelah sana yang dulu saya pertama video chat sama kamu. Ke sebelah lagi ada warnet dimana saya pulang dengan lesu karena iseng stalking kamu. Didekatnya ada tempat yang karyawannya sangat akrab sama kita saking seringnya kita kesana, Sebelum restoran yang menjual makanan Jepang menjamur di Jogja, dulu biasanya kita makan ramen disana. Oiya, dekat sana juga ada angkringan yang bikin kamu sering marah kalau saya nongkrong disana (karena sebelum jadi perkokok aktif, kalau disana saya pasti ikutan ngerokok juga), dan di sebelahnya ada fotokopian dimana kita sering eyel-eyelan punya siapa yang dicopy duluan. Sama agak jauh dari situ ada tempat ngopi yang buka 24jam dimana saya terpaksa dengan sukarela menemani kamu karena acaramu selesai kemalaman.

Ada masa dimana Jogja menjadi tempat kita, tapi Jogja bukan monopoli saya atau kita, karena Jogja juga pernah menjadi tempat bagi kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s