Tentang Jogja Tapi Bukan Tentang Gudeg

Kraton_Yogyakarta_Pagelaran

Dalam percakapan mengenai “Demokrasi dan Indonesia”, mulai dari forum kampus hingga forum warung kopi, mungkin 90 persen kesimpulannya adalah “Indonesia belum siap untuk demokrasi”, kesimpulan itu diikuti dengan berbagai presume seperti kita butuh pemimpin ala orde baru, hinggaada yang mau menegakkan yang itu tuh.

Sejauh ini saya masih di Jogja, dan meskipun sudah agak terlambat untuk membuat saya menjadi sosok kontroversial yang kemudian populer di jagad dunia maya, saya sudah lama gatel untuk ngomongin masalah suksesi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bagi yang masih di Jogja dan akrab ngopi sampai malam mungkin sudah fasih sama isu ini, dan eike yakin 90 persen suara yang didengar adalah suara jelek, ya sultan pelit lah, ya sultan curang lah, ya tidak mengikuti tradisilah, ya ini-itu dan kadang banyak yang sifatnya menghasut.

Saya cuma mau menekankan satu point, itu SULTAN bukan PRESIDEN. Saya malas menjelaskan apa bedanya, sebenarnya dari terminologinya saja sudah ketahuan, apalagi kalau ditilik sono-sononya. Saya sepakat dengan salah satu artikel dari Mojok yang intinya membandingkan antara sultan jogja dengan presiden amerika soal kangkung dan brokoli. Saat George H Bush mencoret brokoli dari menu gedung putih, demonya bukan main, sedangkan saat sultan bilang kangkung out dari menu keraton, boro-boro demo. Petani-petani yang masih nekad menanam kangkung mungkin akan berakhir di dungeon-dungeon sambil disiksa.

Oke fain, demi kepentingan rakyat. Tapi balik lagi, bagaimana posisi sultan-rakyat jika dibandingkan dengan presiden-rakyat. Presiden dipilih oleh rakyat melalui suatu pemilu yang merupakan bagian dari sebuah sistem yang keterlaluan kalau masih kurang paham. Sedangkan sultan?

“Tapi kak, kan pemilihan sultan melalui musyawarah dewan itu-tuh”, oke fain, tapi apakah dewan itu posisinya berada di atas sultan? Karena setahu saya toh sultannya masih yang itu, dan yang menjadi polemik adalah bahwa sultan mengeluarkan sabda raja yang ngene-ngono. Dan apakah sultan haram mengeluarkan sabda raja macam itu? Saya kira jangan bicara aturan, karena, SULTAN, bukan PRESIDEN.

Sedikit keluar jogja, baru-baru ini saya nonton Minion The Movies,  dan ada satu hal yang nyangkut disitu, saat Bob diminta menyerahkan tahta ke Scarlet, Ratu Elizaebeth dan segenap pranoto kraton Britania Raya menolak, alasannya? Ya melanggar aturan. Apa yang dilakukan Bob? He simply changed the rule!! Dan saya kira itu yang berusaha dilakukan oleh HBX saat ini menurut saya.

Mungkin di satu sisi yang menjadi keberatan saya adalah bahwa sesuai aturan keistimewaan, Sultan Jogja akan merangkap sebagai gubernur, dan ini adalah point yang harus saya telan karena dulu saya juga termasuk pion-pion yang turut mendukung terciptanya keistimewaan Jogja.

Dan update belakangan, Sultan katanya mencabut sabda raja dan mengembalikan gelarnya seperti semula, dan ini banyak dicibir banyak orang, kalau saran saya, sultan manut saja lah, maju salah, mundur salah, kayak ngadepin cewek lagi PMS.

Salam Sendiko Dhawuh,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s