Memahami Yang Indah-Indah

https://www.flickr.com/photos/yr_michael/18583021899/

https://www.flickr.com/photos/yr_michael/18583021709/in/photostream/

https://www.flickr.com/photos/yr_michael/18583021639/in/photostream/

Mungkin saya sudah terlalu sering post foto-foto ini, tapi ya biar, saya suka. Pada saat pengambilan gambar bukanlah kali pertama saya menikmati pertunjukan ini, tapi saya pikir ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menikmati gerakan-gerakan nan indah yang dibawakan oleh para penari. 

Ini suatu hal yang aneh, karena pertunjukannya juga begitu-begitu saja, jalan cerita tidak berubah, settingnya sama, tapi kenapa baru setelah kedua kalinya saya kesana saya baru bisa menikmati sajiannya. Analisa saya pun menyimpulkan beberapa hal, mulai yang masuk akal, sampai yang paling tidak masuk akal.

Pertama, pada saat pertama kali saya menonton, saya lebih banyak terdistraksi dengan kamu yang duduk di sebelah saya. Sedangkan saat pengambilan gambar saya tidak duduk dengan siapa-siapa.

Kedua, waktu itu sedang masa coba-coba pdkt, jadi mungkin sedikit khawatir dengan mitos kalau pacaran di Prambanan nanti nggak langgeng (kata temannya madam). Sedangkan waktu pengambilan gambar kondisinya memang sedang tidak sama siapa-siapa, jadi ya lebih rilex mungkin, tidak ada kekhawatiran.

Ketiga, mungkin ini yang tidak masuk akal, scene seperti ini adalah scene yang telah lama saya impi-impikan. Scene ini adalah bentuk sempurna dari salah satu foto yang saya ambil pertama kali dan membuat saya sreg untuk jajal-jajal jadi hotohraher. Singkat kata, pada pengambilan gambar dimana saat itu adalah kali kedua saya menonton, saya sudah paham apa itu “indah”. Itulah yang membuat saya jadi bisa menikmatinya.

Ini adalah gambar yang saya ceritakan barusan. Dalam gambar itu banyak kecacatan yang membuat saya kurang sreg, pertama pentas ini dilakukan siang hari di lapangan, bukan panggung, dan kemampuan saya untuk mendapatkan sudut yang pas dengan isolasi objek yang baik masih sangat minim (sampai sekarang juga sih). Keindahan mbak penari memang sedikit banyak sudah terekam dengan baik, tapi saya masih terganggu dengan latar belakang yang berantakan, ada rumah, penonton, dan sebagainya.

Sedangkan dalam foto di Prambanan, objeknya bisa fokus, pentas dilakukan malam hari di sebuah panggung, sehingga gangguan di latar belakangnya bisa saya minimalisir. Selain itu kemampuan saya dalam bidang dijital imejing sudah sangat lebih baik (meskipun sering diejek Mas Aan-hotohraher kawakan, karena masih hobi pakai preset lightroom). Foto ini saya ambil dalam format RAW, aslinya sih agak berantakan, tapi yang namanya RAW ya akhirnya gambarnya bisa bersih juga.

Mungkin pelajaran yang bisa saya petik dari fenomena ini adalah bahwa saat pertama kali menikmati pertunjukan ini saya masih kurang paham, sehingga saya tidak bisa melihat keindahan-keindahan yang tersembunyi di dalamnya (sebenarnya juga tidak disembunyikan). Apa yang saya bawa pulang waktu itu hanyalah sebuah pengalaman “sudah pernah”, berbeda dengan apa yang saya rasakan kemudian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s