Jogja dan Afeksi dari Sebuah Warung Gudeg.

“Asalnya mana mas?”

“Semarang”

“Lho, sama dengan dia dong, Semarang mana?”

“Saya bukan Semarang kota, tapi Semarang kabupaten, Ungaran”

Saya kira ini adalah percakapan pertama saya sebagai seorang mahasiswa dengan seorang kawan satu jurusan. Percakapan yang kemudian menjadi bahan komedi selama bertahun-tahun hingga kami dipisahkan oleh kelulusan dan kesibukan. Saya sendiri sudah lama sibuk, tapi baru kali ini lulus. Dan keberadaan saya di Jogja membuat saya sangat mudah untuk bernostlagia dibanding teman-teman yang sudah di Jakarta atau kota-kota besar lainnya.

Kampus memang sudah banyak berubah, seperti kantin Yong Ma sekarang tampak lebih bersih dan cerah , meja-meja dibentuk dan ditata selayaknya kafe untuk kalangan menengah. Lapangan Sansiro sudah tidak ada lagi, lebih tepatnya ada, tapi lebih tinggi. Lapangan yang dulu biasa digunakan untuk voli ini diganti dengan kursi-kursi taman. Taman Fisipol memang masih ada, secara teknis, hanya ada satu pohon yang hilang, tapi entah kenapa, panas. Tapi tidak menjadi masalah karena kini tersedia plaza baru yang cukup luas dan colokan listriknya dijamin bekerja dengan baik.

Keluar dari kampus, Alamanda masih seperti dahulu. WPA sudah sedikit bersolek, sekarang tempatnya sudah tidak wagu untuk membawa gebetan atau pacar, tempat lama masih ada, tapi disambung lagi dengan bangunan bertingkat yang ditata ala cafe. Tidak banyak yang berubah dari burjo UNY, kecuali harganya yang sekarang tergolong lebih mahal dari burjo-burjo lain di sekitaran kampus. A’a nya masih sama, cuma sekarang tampaknya sudah menduduki jabatan paling senior di jagad perburjoan, tidak seperti dulu saat pertama bertemu, dimana si A’a masih jadi junior dan belum hapal harga.

Kebiasaan kawan-kawan di Alamanda pun sudah banyak berganti, kami dulu yang biasa menghabiskan waktu mendengarkan siraman rohani/ bermain PES dan menonton TV di kamar Igha sekarang memiliki kesibukan sendiri-sendiri, mulai dari yang rajin nongkrong di warung kopi hingga yang jadi fans berat jeketi.

Memang waktu ibarat anak panah yang telah melesat dari busurnya. Seperti apapun ia tak akan kembali, pun ada angin kencang dia hanya akan berbelok sedikit ke kanan atau ke kiri. Sebagaimana pun saya menginginkan masa itu untuk terulang lagi. Hanya beberapa hal yang masih dapat saya lakukan, yaitu menjaga silaturahmi, dan sebagai orang yang lulusnya sangat lumayan tidak tepat pada waktunya, saya harus mengejar karir kawan-kawan dan tidak membuat malu almamater yang telah membesarkan saya selama ini.

Oiya, warung gudeg Kadipiro sepertinya sudah kukut. Harus akrab lagi sama indomi kalau kaliren malam-malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s