Facebook

facebookSudah lama sekali saya online Facebook lewat dekstop. Biasanya saya online lewat Android saya, bahkan saat saya sedang konek internet ke laptop pun saya lebih memilih untuk berselancar di jejearing sosial, apapun itu lewat HP saya, simpel saja, karena sudah kebiasaan.

Saya agak kaget dengan segala macam perubahan di tampilan muka Facebook saat ini, tidak yang membuat saya kesulitan untuk menggunakannya, hanya saja “beda” dengan biasanya dulu. Bukan lebih jelek, tapi sedikit lebih rumit, bukan rumit yang membuat saya kesusahan menggunakannya, faktanya, dengan tampilan yang baru justru memudahkan untuk melakukan banyak hal di Facebook saat ini. Seperti fitur chat yang sudah terintegrasi dengan massage, list lengkap di sebelah kanan, update bukan berdasarkan recent, tapi berdasarkan hits, dan lain sebagainya. Saya kira tim nya om Zuckenberg membuat perubahan ini bukan sekedar untuk mmembuat para penggunanya tidak nyaman, tapi ya memang kalau mau selalu berada di papan atas, apapun itu harus paham akan perubahan dan penyyesuaian dengan masa.

Saya sudah lama sekali menggunakan jejaring sosial yang satu ini, saya ingat mungkin di bulan Juli 2009, waktu saya mengisi jeda antara lulus SMA dengan masuk kuliah yang lamanya sekitar 2 bulan (pada waktu itu merupakan waktu yang sangat lama untuk tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan). Facebook sedang trend, semua orang bicara tentang Facebook, di televisi para penyiar berita mencantumkan alamat Facebook mereka, di kalangan teman-teman saya, mereka selalu berujar untuk mengupload foto-foto yang baru saja diambil ke Facebook, di warnet-warnet (dulu saya tidak memiliki internet rumah) semua antri untuk main Facebook, anda tidak bisa menghindar dari Facebook di masa itu.

Saya bukan geek atau apapun itu, pada waktu itu saya tidak akrab dengan jejaring sosial, bagi saya SMS atau telefon sudah cukup untuk menghubungi atau dihubungi, bagi saya untuk mengetahui kesibukan apa yang teman-teman saya lakukan cukup dengan mengalokasikan waktu sedikit lebih banyak saat makan siang atau menunda pulang beberapa menit untuk bercakap-cakap. Jika saya bosan, saya tidak sungkan untuk mengetuk pintu rumah kawan dan mengajaknya mencari hiburan. Saya melewatkan banyak social media sebelum Facebook, MIRC, Yahoo Messenger, Friendster, MySpace, pada waktu itu saya sama sekali tidak tertarik untuk menggunakannya, bagi saya internet adalah tempat untuk menemukan hal-hal baru yang tidak berada dalam jangkauan saya, dan teman-teman saya berada dalam jangkauan saya, jadi kenapa harus?

Kemudian dimulailah pengalaman saya dengan Facebook, saya kira luar biasa, beberapa lama tanpa kegiatan pasti, ditambah dengan ternyata koneksi internet saat itu sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, saya menemukan hiburan di social media yang satu itu. Ternyata ada game, pada waktu itu saya cukup antusias dengan Mafia Wars, tidak tahu sekarang masih ada atau tidak. Kemudian ada forum, atau sekarang namanya group, dan saya melihat di linimasa kawan-kawan saya banyak hal yang saya lewatkan. Ya karena saya tidak 24/7 bersama mereka. Tentu banyak hal yang mereka lakukan tanpa saya, dan sekarang saya bisa tahu.

Tidak lama, saya mulai ahli, saya mengajari beberapa kawan untuk membuat akun mereka (tidak banyak, karena saya juga termasuk dalam jajaran terakhir yang membuat akun). Dan saya mulai mengerti satu fitur yang membuat banyak orang menghabiskan berjam-jam waktu mereka di depan layar monitor, Stalking.

Ya, saya bukan orang yang masuk jajaran Cassanova, bahkan saya sebenarnya agak takut untuk bertegur sapa dengan wanita yang saya sukai, saya sungkan untuk bertanya dia sedang apa, apa yang berkesan bagi dia beberapa hari belakangan ini, apa yang sedang diinginkannya, dan sebagainya. Tapi disini, saya bisa mengetahui semua itu dengan mudah, bukan salah saya, karena memang itu bukan paksaan, mereka secara rela menuliskannya di akun mereka dan kemudian muncul di linimasa saya.

Singkat cerita, sekarang saya punya bahan obrolan. Dan itu membuat semuanya menjadi mudah. Saya masih ingat ketika hubungan anda dengan seseorang ditentukan oleh relationship anda di status, dan sangat akurat 100 persen, setidaknya pada waktu itu.

Facebook membuat saya berhemat dalam banyak hal, bensin, pulsa, dan terutama waktu. Sangat mudah untuk akrab dengan seseorang jika anda sudah tahu sebelumnya segala kegemaran orang tersebut, itu pikir saya, dan pada waktu itu Facebook justru tidak membuat saya menjadi anti social, saya justru semakin mudah untuk bergaul dengan orang lain.

Tapi kemudian sesuatu yang baik tidak berlangsung selamanya, jika banyak hal terjadi di sana, saya kira juga banyak hal tidak mengenakan terjadi di social media tersebut. Sesuatu yang saya hindari untuk perbincangkan dan sebenarnya ingin saya lupakan.

Saya mulai merindukan masa-masa dimana saya bisa menghargai waktu saya bersama kawan-kawan saya, begitu pula sebaliknya. Saya mulai merindukan bagaimana dulu saya bisa bercengrama dengan orang lain, berbicara tentang mereka, bukan tentang saya. Dan bagaimana saya bisa membuat teman baru hanya karena kebetulan berada di meja yang sama saat makan siang.

Saya pun mulai jarang menggunakan Facebook, dengan harapan bahwa saya bisa melakukan apa yang dulu saya biasa lakukan. Tapi ternyata perubahan bukan berjalan hanya pada diri saya, dan itu menjadi suatu fakta yang kurang mengenakan.

Beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan sebuah pesan Facebook dari seseorang yang pernah singgah dalam kehidupan saya. Jujur saya tidak paham maksud dan tujuannya, bahkan setelah mengadakan “rapat” dengan beberapa teman saya yang paham dengan kasusnya.

Ada hubungan menarik antara saya, dia, dan jejaring social yang sedang saya bicarakan. Dia adalah apa yang saya maksud sejauh ini, dialah yang saya maksud saat saya mengatakan saya memiliki keterbatasan untuk secara terbuka mengungkapkan perasaan saya padanya, dia adalah orang yang selalu saya stalking untuk tahu isi pikirannya, dia adalah orang yang selalu saya tunggu kehadirannya di linimasa saya. Dia dan masa lalu saya merupakan satu kombinasi yang membuat saya ingin memiliki kekuatan untuk mengembalikan waktu ke 5 tahun yang lalu, saat dia masih singgah di dalam hidup saya.

Tapi kemudian tampilan muka Facebook saat ini mengingatkan saya. Saya tidak bisa berlama-lama tersenyum mengenang masa lalu, karena itu tidak akan merubah apapun dalam hidup saya.

Seiring dengan berjalannya waktu, beberapa hal akan berubah, dengan tujuan yang baik tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s