Motivasi Yang Mematikan

Sebagai manusia pada umumnya, meskipun kadar kenormalam saya masih patut untuk diperdebatkan. Saya tentu haus akan apresiasi akan sesuatu yang saya kerjakan, contohnya adalah dalam beberapa waktu kedepan saya akan mesam-mesem sendiri melihat trafik tulisan di blog nan aduhai ini, ngecek notifikasi apakah ada yang komen atau ngelike, dan lain sebagainya. 

Sekitar beberapa hari atau mungkin tahun belakangan ini, saya merasa seperti sedang berada dalam sebuah kekosongan dalam hidup saya, ibarat gelas yang tak kunjung diisi air hingga dipenuhi debu, sehingga kamu lebih memilih untuk beli big cola dengan harga tiga ribu.

Saya merasa bahwa kok sepertinya hidup saya tak kunjung berguna, valid memang. Bukan jauh-jauh berguna bagi bangsa dan negara seperti Jendral Sudirman atau R.A. Kartini, tapi dalam hal yang sangat mendaaar, yang saking dasarnya saya sendiri bingung untuk menjabarkan.

Apa yang saya sebut sebagai “kekosongan” ini, bermula dari hal yang sangat sederhana, bulan Ramadhan tahun lalu, selayaknya pemuda tanggung pada umumnya, saya habiskan banyak waktu sore menjelang malam saya untuk berselancar ria di social media, munculah di beranda tentang berapa teman yang berkumpul di Jakarta dalam sebuah acara buka puasa bersama. Awalnya senang rasanya bisa melihat teman-teman yang lama saya tak jumpa, tetapi semakin saya cermati, semakin terasa ada yang mengganjal di hati.

Mereka berada disana sudah sebagai orang yang berbeda dari terakhir saya bertemu mereka, ada yang sudah jadi abdi negara, atau pun abdi korporat. Tampak sudah bahwa mereka telah hidup di dunia yang berbeda dengan saya. Dan disinilah momen yang membuat moral saya menjadi benar-benar tersungkur (bukan berarti saya menjadi amoral) ternyata dalam pertempuran melawan waktu, (sejauh ini) (semoga cukup sampai disini) saya telah kalah.

Tentu bagi para manusia yang berjiwa motivator, momen seperti ini justru seharusnya dijadikan momen yang mendongkrak semangat, untuk kemudian bangkit dan berjuang, untuk membuka mata akan peluang, dan lain sebagainya (lebih lengkapnya buka saja portalnya om Mario Teguh, saya lupa alamatnya).

Tapi ya itu dia, sebelum ada kata “bangkit” dan “bergerak” ada kata “diam” dan tersungkur”.

Nanti kalau sudah “bangkit” dan “bergerak” saya tak nulis lagi. Nanti..

image

Advertisements

One thought on “Motivasi Yang Mematikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s