Rutinitas Yang Jelas

Sebelumnya saya sudah pernah sambat yang secara singkat menggambarkan tahun-tahun saya yang belakangan ini penuh dengan kebosanan. Dan kebetulan setelah konsultasi bercampur ghibah dengan seorang teman, tersimpulah bahwa apa yang hilang dari saya beberapa tahun belakangan adalah semangat. Oke, logikanya masuk dan bisa diterima dengan akal sehat.

Dalam rangka menata ulang “semangat” saya yang hilang, ibarat Bapak Pembangunan Indonesia dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun, saya pun turut menetapkan konsep, teori, planing, atau entah apapun itu namanya untuk menciptakan keteraturan yang hilang dalam hidup saya. Mungkin jika sekedar saya ceritakan anda tidak akan percaya, tapi dulu meskipun saya serampangan, nongkrong, ngegame, wifian, dan sebagainya, hidup saya sangat terjadwal. Saya nongkrong di jam 2-6 sore, wifian jam 8-12 malam, ngegame setiap malam minggu jam 7-11. Namun semua itu berubah ketika saya putus cinta tidak lagi ambil kuliah. Semua berantakan, tentu karena saya overdosis waktu luang, yang diatas jadi dibawah, yang dibawah jadi disampin, yang disamping sering ketinggalan di rumah. Disitulah saya kemudian perlahan kehilangan rutinitas, dan ternyata selama ini, rutinitas bagi saya seperti Kuku Bima bagi Om-om yang lagi keranjingan fitness, tanpanya saya lemah.

Mungkin sekarang sudah makan waktu hampir dua minggu, dan saya masih lumayan terseok-seok dalam menata rutinitas, tapi saya mulai menemukan hasilnya, jam makan saya mulai normal, jam ngantuk saya mulai teratur, dan emosi saya lebih terkontrol. Tapi ya namanya manusia, yang namanya cobaan selalu saja ada.

Belakangan seperti mengulang kejadian dua tahun lalu, saat saya berusaha bangkit dari keterpurukan saya pasca putus. Muncul ide-ide gila tentang menebus dosa lulus lama dengan melakukan sesuatu yang tepat guna, yang berakhir dengan hasil nol, buang waktu iya.

Beberapa hari ini ini saya menemukan kembali tantangan untuk menolak, atau minimal menghindar, tantangan bahwa ini bukan sekedar mengatur rutinitas seperti alarm adzan, tapi juga untuk menentukan secara jelas mana yang iya mana yang tidak. Untuk bukan sekedar berwacana tapi juga berlari, Bukan untuk sekedar terbuai, tapi juga memulai.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s