Plengkung Gading ke Selatan 100 Meter Kiri Jalan

Buat warga Jogja generasi 90an, tentu tidak asing dengan nama “Kafe 17”. Kebetulan saya pun mengalami masa-masa dimana Kafe 17 menjadi tempat paling “hits” di Jogja, istilahnya, belum gaul kalau belum pernah mampir ke Kafe 17 pada masa itu. Namun kini jika ada yang sekedar lewat ke Jalan Pandjaitan, lalu inguk-inguk tempat dimana dulu Kafe 17 berada, baik sekedar nginguk, ngasih tahu teman, atau bernostalgia sama mantan pacar tentu akan “kecelik”. Karena sekarang lokasi persis dimana Kafe 17 dulu berada kini sudah beralih fungsi. Tapi kalau nginguknya geser dikit ke sebelah kirinya, maka akan ketemu penerus dari Kafe 17, yaitu “Angkringan 17”.

SONY DSC

ramesan yang hampir habis karena difoto kemalaman

.Angkringan 17 berdiri dari tahun 2010 (katanya yang punya) setelah melalui proses persemedian panjang di jejaring sosial tentang tempat apa yang saat itu dibutuhkan anak muda. Melalui jejaring sosial KOPROL, tidak lain tidak bukan, Mas Iwan, yang dulu membidani dan membesarkan Kafe 17 memanen kesimpulan bahwa anak muda jaman sekarang pengen tempat nongkrong yang jajanannya murah, tapi ada wifi-nya.

Meskipun dengan segala menu dan kelengkapannya, Angkringan 17 sangat susah untuk dipadankan dengan angkringan-angkringan lain (kecuali gerobak angkringan yang dipajang di depan), namun aura kongkow santai gojek kere masih dapat dirasakan disini. Termasuk ritual main comot jajanan yang berujung pada tagihan makan malam yang lumayan membengkak.

SONY DSC

aneka jajanan tersaji diatas gerobak angkringan yang tidak ditambahi ceret

SONY DSC

Koh Edi in action!

SONY DSC

Primadona diantara sate-sate lain, SATE JARAN, berani coba?

Seperti halnya angkringan pada umumnya, tentu terbayang sego kucing, aneka gorengan, aneka sate-satean, dan wedang-wedangan yang tersaji di atas gerobak tiga ceret. Di Angkringan 17, selain barang-barang konvensional disini berkat keberadaan Koh Edi, pun terdapat menu-menu ala Chinese food yang telah dikombo dengan lidah dan kapasitas dompet warga jogja pada umumnya, seperti nasi goreng, kwetiaw goreng, mi bakso, chiken katsu, fuyunghai, dan juga menu ramesan yang isinya sesuka hati yang masak, seperti ayam masak tauco, sayur pare, tumisan sayur, bakmoy, sop ayam, dan sebagainya. Semua makanan dijual dengan harga yang sangat terjangkau antara 500 untuk aneka gorengan, hingga 10 ribuan untuk makan besar. Untuk wedangan, tersedia wedang uwuh, wedang jahe, hingga menu-menu ala kafe, seperti peppermint tea, milky tebs, red squash mint, yang sering bikin bingung yang lagi lapar saking banyak pilihannya.

Angkringan 17 buka senin-sabtu, jam 11-24, kecuali jumat jam 1 siang baru buka. Sesuai judul, kalau mau kesini tinggal cari plengkung gading, ke selatan 100 meter, lalu nginguk kiri jalan, kalau bisa pelan-pelan, karena tempatnya sering ketutupan mobil.

biar tambah gampang nemunya

biar tambah gampang nemunya

Advertisements

2 thoughts on “Plengkung Gading ke Selatan 100 Meter Kiri Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s